Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu dapat hidup tenang dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Ar-Ruum : 21)
Surat Ar-ruum ini sering ditulis di kartu-kartu undangan pernikahan, sampai aku hapal isinya. Akupun selalu berdo’a semoga suatu hari kelak, giliran aku yang akan mengirim undangan dengan tulisan surat Ar-Ruum ini.
Dan ketika saatnya itu tiba, aku hanya bisa mengucap syukur kepada Allah swt. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau mempertemukan aku dengan Teman Sejati yang Engkau pilih untuk hambamu ini.
Enam bulan masa perkenalanku dengan suami sebelum kami memutuskan untuk melanjutkan kejenjang pernikahan. Banyak yang meragukan hubunganku dengan dia karena statusnya yang duda cerai dengan beberapa anak, tidak terkecuali saudara dari suamiku (kecuali almarhumah mama suamiku :)).
Aku memahami kekhawatiran keluarga, sahabat dan teman-temanku. Semua itu karena rasa sayang mereka kepadaku. Mungkin mereka tidak ingin kejadian yang pernah dialami sumiku (cerai) terjadi kepadaku. Dan aku percaya dia (suamiku) atau siapapun tidak ada yang mau gagal dalam berumahtangga, tapi jika takdirnya seperti itu, apa mau dikata. (semoga hal ini menjadi pelajaran berharga buat suamiku untuk rumah tangga kami di masa yang akan datang. Amin)
Awalnya aku juga tidak yakin dengan keputusanku untuk berta’aruf dengan dia. Saat pertama bertemu dan melihat penampilannya, aku merasa he is not my type, gayanya terlalu metropolis menurut aku. Tapi setelah aku ngobrol panjang, ternyata aku menemukan banyak persamaan diantara kami, walaupun gak aku pungkirin kalau perbedaan diantara kami juga banyak.
Tapi aku percaya kalau visi dan misi kita sama dalam membina rumah tangga, insya Allah perbedaan yang ada akan bisa diatasi dengan komunikasi yang baik. Aku juga terus berdo’a dan memohon kepada Allah jika dia adalah jodoh yang dipilih Allah untuk aku, aku minta ta’aruf kami dilancarkan dan niat kami untuk membentuk rumah tangga yang SAMARA dimudahkan dan lancarkan. Aku ikhlaskan dan pasrahkan semuanya kepada Allah swt. Aku yakin dan percaya sebagai mahluk aku hanya mampu berdo’a dan ikhtiar, sedangkan keputusan akhir MUTLAK milik Allah.
Saat aku ditanya apakah aku akan sanggup mendampingi dia yang pekerjaanya lebih lama di laut dibanding di darat? Aku hanya bisa menjawab “tidak tahu” karena aku memang tidak tahu apakah akan sanggup atau tidak, aku hanya bisa mengucap “Bismillah”. Hanya Allah yang tahu diriku, kalau Allah berkehendak, insya Allah tidak ada yang tidak mungkin. Lahaula walla kuwata illa billahi ‘aliyil azhim.
Sebelum aku bertemu dengan suamiku, sering orang-orang disekelilingku menanyakan kapan aku menikah? Trus ada juga yang bilang jangan terlalu asyik bekerja ntar lupa menikah, atau ada juga yang bilang jangan terlalu pilih-pilih :).
Semua pertanyaan itu, aku tanggapi dengan santai.
Kalau ditanya kapan aku akan menikah? Aku bilang aja insya Allah disaat yang tepat menurut Allah, Dia akan mempertemukan aku dengan jodohku, yang pentingn ikhtiar terus. Dan aku gak pernah menutup diriku untuk diperkenalkan dengan siapapun (tentunya yang statusnya available, karena pantang bagiku untuk mengganggu rumah tangga orang lain). Atau aku malah minta dikenalkan dengan kenalan mereka :).
Kalau ada yang menyangkut-pautkan kesendirianku saat itu karena terlalu asyik bekerja, sepertinya mereka salah. Bekerja adalah kewajibanku untuk membiayai diriku dan membantu keluargaku (sedikit-sidikit). Lho kalau aku gak kerja, siapa yang akan bayar kontrakan rumahku, kebutuhanku sehari-hari, iya toh?
Trus, kalau dibilang terlalu memilih..?? Lha iyalah, aku masih memilih lelaki sebagai imam di dalam keluargaku kelak hahahaha. Masa aku pilih wanita?? Ntar aku dibilang lesbian dong..??? ada-ada aja ya..??
Kalau orang lain mungkin menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu dengan rasa kesal, dan ketus, tapi aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan santai. Aku percaya semua itu karena rasa sayang mereka kepadaku.
Yakinlah, Allah lebih tahu apa yang baik untuk kita. Dan siapa yang baik untuk kita.
Saat ini, aku dan suami hanya menjalani kehidupan berumah tangga kami apa adanya, dengan tidak lepas selalu berdo’a kepada Allah, memohon bimbingan-Nya.
Kami berdua hanyalah dua orang manusia yang tidak pernah luput dari kekhilafan dan dosa, yang berusaha dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Insya Allah.
SYAIR RENUNGAN UNTUK SUAMI ISTRI
ISTRI YANG KUNIKAHI, TIDAKLAH SEMULIA KHADIJAH
TIDAKLAH SETAQWA AISYAH, PUN TIDAK SETABAH FATIMAH
JUSTRU ISTRIKU HANYALAH WANITA AKHIR ZAMAN,
YANG PUNYA CITA-CITA MENJADI SHOLEHAH…
SUAMIKU YANG KUNIKAHI, TIDAKLAH SEMULIA MUHAMMAD SAW…
TIDAKLAH SETAQWA IBRAHIM, PUN TAK SETABAH AYYUB
ATAUPUN SEGAGAH MUSA, APALAGI SETAMPAN YUSUF
JUSTRU SUAMIKU HANYALAH LAKI-LAKI KETURUNAN AKHIR ZAMAN,
YANG PUNYA CITA-CITA MEMBANGUN KETURUNAN
YANG SHOLEH…
PERNIKAHAN ATAU PERKAWINAN
MENGAJAR KAMI KEWAJIBAN BERSAMA,
PERNIKAHAN ATAU PERKAWINAN MENGINSYAFKAN KAMI
PERLUNYA IMAN DAN TAQWA
UNTUK BELAJAR MENITI SABAR,
DAN MERAIH RIDHO ALLAH SWT,
KARENA MEMILIKI SUAMI YANG TAK SEGAGAH MUSA,
JUSTRU KAMI AKAN TERSENTAK DARI ALPHA,
KAMI BUKANLAH YANG SEMPURNA,
KAMI CUMA SUAMI DAN ISTRI AKHIR ZAMAN
YANG BERUSAHA MENJADI SHOLEH DAN SHOLEHAH



